TATACARA SHALAT IDUL FITHRI DAN ADABNYA

TATACARA SHALAT IDUL FITHRI DAN ADABNYA

✍️ Ustadz Abu Halbas Muhammad Ayyub Lc

Shalat  ‘Idul Fithri  terdiri dari dua rakaat. Berdasarkan pada hadits Umar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata;

صَلَاةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْأَضْحَى رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ ﷺ.

, ‘Shalat dalam safar adalah dua rakaat, shalat ‘Idul ‘Adh-ha adalah dua rakaat, shalat ‘Idul Fithri adalah dua rakaat, sempurna tanpa ada pengurangan, berdasarkan atas lisan Muhammad Shalalalhu ‘alaihi wasallam.’ (Shahih. HR. Ahmad 1/37 dan an-Nasa’i 3/183).

🧭 Adapun tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

1. Memulai rakaat pertama dengan takbiratul ihram seperti pada shalat yang lainnya. Lalu membaca do’a iftitah.

2. Lalu setelah itu bertakbir sebanyak enam kali, lalu membaca ta’awwudz, basmalah, dan surat al-Fathihah. 

Hal ini disandarkan pada dhahir hadis Abdullah bin 'Amr bin Al-Ash. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

التَّكْبِيْرُ فِيْ الفِطْرِ سَبْعٌ فِي الأُوْلَى وخَمْسٌ فِي الآخِرةِ، والقِراءَةُ بَعدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا

"Takbir pada shalat ‘Idul Fithri adalah tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat terakhir. Serta membaca bacaan setelah keduanya" (Hasan. HR. Abu Dawud 115).

Imam Ahmad berkata, "Hendaklah ia bertakbir pada rakaat yang pertama dengan tujuh takbir bersama dengan takbiratul ihram …" (Al-Mughni 2/11) 

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, ‘Hendaklah ia bertakbiratul ihram, lalu membaca do’a iftitah seperti yang terdapat dari Nabi (lalu beliau menyebutkan do’anya), apabila ia telah membaca do’a iftitah dengan do’a ini atau yang lainnya, maka hendaklah ia bertakbir enam kali, Allahu Akbar-Allahu Akbar hingga lengkap berjumlah enam, kemudian berta’awwudz dan membaca al-Fatihah, dengan demikian do’a iftitahnya lebih didahulukan dari takbir az-zâidah (takbir tambahan).’ (Lihat Syarhul Mumti’ 2/394).

3. Tidak ada do’a atau dzikir khusus yang shahih datangnya dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam yang dibaca pada sela-sela takbir ‘Id. 

Ibnul Qayyim berkata, "(Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam)  diam di sela-sela takbir-takbir ‘Ied dan berhenti sejenak, dan tidak pernah dinukil ada suatu dzikir tertentu ketika itu.’

4. Jika mau, angkatlah tangan pada tiap-tiap takbir tambahan (baik yang dirakaat yang pertama maupun yang dirakaat yang kedua) dan    jika mau anda boleh mencukupkan mengangkat tangan pada takbir yang pertama saja dan tidak pada takbir-takbir setelahnya. Untuk urusan ini, perkaranya longgar. Alasannya, karena mengangkat atau tidak mengangkat tangan pada takbir-takbir tambahan tersebut tidak  disebutkan secara jelas dan tegas dari Nabi shalallahu alaihi wasallam. Namun berdasarkan pada keumuman hadis, maka mengangkat tangan pada takbir-takbir tambahan adalah lebih diutamakan. 

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu ia berkata;

وَيَرْفَعُهُمَا فِي كُلِّ رَكْعَةٍ وَتَكْبِيرَةٍ كَبَّرَهَا قَبْلَ الرُّكُوعِ، حَتَّى تَنْقَضِيَ صَلَاتُهُ

"Dan beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap rakaat dan pada setiap takbir yang dilakukan sebelum rukuk sampai selesai shalat beliau.” (Shahih. HR. Ahmad)  

Sedang takbir-takbir zawaid (tambahan) dilakukan sebelum ruku'.

Atha' (Salah seorang pemuka tabi'in yang merupakan murid dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Hurairah dan para shahabat lainnya radhiyallahu anhum) pernah ditanya oleh muridnya Ibnu Juraij ,"Apakah seorang imam disyari’atkan untuk mengangakat kedua tangannya pada setiap takbir-takbir tambahan shalat idul fithri?’ Atha' menjawab, 'Ya, dan orang-orang (para makmum) juga disyari’atkan untuk mengangkat tangan-tangan mereka." (Sanadnya Shahih.  ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf  no. 5699)

5. Seusai takbir tujuh kali dan membaca al-Fatihah, dianjurkan membaca surat Qâf wal Qur’anil Majîd  (HR. Muslim 891)  atau Sabbihisma Rabbikal A’lâ (HR. Muslim 878) Dan boleh membaca surat-surat yang lainnya. 

6. Setelah membaca surat tersebut, lalu mengerjakan rukun-rukun shalat lainnya seperti biasa.

7. Lalu takbir lagi untuk rakaat kedua.

8. Lalu takbir lima kali seperti pada rakaat pertama, hanya saja tidak ada bacaan iftitahnya seusai takbir pertama. Lalu disusul dengan bacaan al-Fatihah.

9. Seusai membaca al-Fatihah, dianjurkan membaca surat Iqtarabatis-Sâ’atu wan Saqqatil Qamar  (HR. Muslim 891] atau Hal Atâka Haditsul Ghatsiyah (HR. Muslim 878) Dan juga boleh membaca surat-surat yang lainnya.

10. Lalu, menyempurnakan shalatnya dan salam.


🍃 ADAB-ADAB BER- 'IED 🍃

Berikut adab-adab yang mesti diperhatikan bagi mereka yang berangkat ketanah lapang untuk melaksanakan shalat 'ied ;

1. Disunnahkan mandi sebelum berangkat. 

Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang mandi sunnah, beliau menjawab, ‘Pada hari jumat, hari Arafah, hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fithri.’ [Shahih. HR. Syafi’i 114].

2. Berhias dan memakai pakaian yang paling bagus. 

Umar pernah membawa jubah dari istabrok (sutra) yang dibelinya di pasar dan memberikannya kepada Rasulullah seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, belilah ini yang bisa engkau pakai ketika hari raya dan menemui utusan luar.." [HR. Al-Bukhari, Muslim].

3. Makan sebelum berangkat ke tanah lapang. 

Dari Anas ia berkata, ‘Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam makan beberapa butir kurma sebelum berangkat shalat Iedul  Fitri.’ [HR. Al-Bukhari, 953, At-Tirmidzi 543]. 

4. Takbir tatkala berangkat ketanah lapang. 

"Adalah Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam keluar pada hari raya ‘Iedul Fithri sambil bertakbir hingga sampai ketanah lapang dan bahkan sampai melaksanakan shalat." [Hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/1 dan ia memiliki penguat]  

Adapun lafadh takbirnya adalah seperti yang dikumandangkan oleh Ibnu Mas’ud, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, Lâ Ilâha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd.’ [HR. Ibnu Syaibah 2/168 dan Al-Baihaqy 3/315, dan sanadnya adalah shahih].

Atau "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Kabîra." [HR. Abdur Razzaq dari Salman dengan sanad yang shahih].

5. Mengambil jalan yang berbeda ketika pergi dan pulang dari tanah lapang. 

Jâbir berkata, ‘Adalah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pada waktu ‘Ied membedakan jalan [antara pulang dan pergi]." [HR. Al-Bukhari 986].

6. Diperbolehkan mengucapkan ‘Taqabbalallu Minna Wa Minka’ antara satu dengan yang lainnya di saat bertemu. 

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, ‘Para shahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam ketika mereka bertemu satu sama lain, mereka mengucapkan, ‘Taqabbalallahu Minna Wa Minka.’ [Fathul Bâri]

〰〰〰〰〰〰〰
📱JOIN US
Whatsapp : ISLAMIC CENTER WULUHAN :
https://chat.whatsapp.com/LJTcXonhx7ZI6XPazC8I7Y
〰〰〰〰〰〰〰
📡 Disebarkan dan diedit oleh
Yayasan Al-Burhan Jember (Islamic Center Wuluhan)
Jl. Patimura, Purwojati, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember

#kajian #sunnah #ramadhan #muhammadayyub #alburhanjember #islamiccenter #wuluhan #jember

Komentar

Lebih baru Lebih lama