I’TIKAF DI 10 TERAKHIR RAMADHAN

🍃 Bag 1 I’TIKAF DI 10 TERAKHIR RAMADHAN 🍃

[082331775xxx]

Ustadz, jika tidak keberatan, mohon kiranya dituliskan tentang hukum-hukum yang terkait dengan I’tikaf, sehingga dapat kami jadikan pedoman dalam ber-I’tikaf. 

✅🅰♨🆎

I’tikaf di bulan Ramadhan adalah salah satu dari sekian banyak sunnah yang rutin dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bahkan beliau tidak pernah meninggalkannya hingga beliau meninggal dunia. 

Pasti ada faedah besar di dalamnya, hingga sepeninggal beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, isteri-isterinya yang mulia terus melanjutkan dan menghidupkannya begitu juga dengan shahabat-shahabatnya beliau lainnya.

Namun, banyak generasi kini telah melupakannya seakan sunnah itu tidak pernah ada bahkan mereka lebih memilih berI’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan atau bahkan satu bulan penuh di depan layar televisi atau di tempat-tempat tidak berguna lainnya untuk menyambut datangnya ‘Idul Fithri.

🏵 MAKNA I’TIKAF

I’tikaf berasal dari kata ‘akafa yang bermakna menetapi sesuatu dan menahan diri dari padanya, baik itu berupa kebaikan ataupun kejahatan. 

Sedang I’tikaf menurut syara’ adalah menetap di masjid dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang dilakukan oleh orang yang tertentu dan dengan sifat yang tertentu pula. [Fathul ‘Allam 1/586 oleh Shiddiq Hasan Khan dan Tamamul Minnah oleh ‘Adil bin Yusuf Al-Azzazie dalam kitab Shiyam hal. 99].

🏵 DALIL DISYARI’ATKANNYA I’TIKAF

Di antara dalil disyari’atkannya I’tikaf adalah firman Allah Ta’ala

'Dan janganlah kamu campuri mereka (isteri), sedang kamu berI’tikaf di masjid.’ [QS. Al-Baqa rah : 187].

Dari ‘Aisyah Rhadiyallahu ‘Anha, isteri Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam ia berkata, ‘Adalah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam selalu berI’tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat, kemudian isteri-isteri beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berI’tikaf sepeninggalnya.’ [HR. Bukhari 2026 dan Muslim 1172].

🏵 KEUTAMAAN DAN HIKMAH I’TIKAF

Tidak terdapat satu dalil shahih pun yang menyebutkan secara tegas tentang keutamaan berI’tikaf, hanya saja dengan disyari’atkannya I’tikaf seperti yang di firmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 187 dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam melakukannya secara terus-menerus semasa hidupnya adalah cukup sebagai bukti dan dalil bahwa berI’tikaf adalah amalan utama di sisi Allah.

Oleh itu, para ulama salaf terdahulu begitu takjub dan heran kepada orang-orang yang meninggalkan ibadah I’tikaf sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah di dalam kitabnya Fathul Baari’ 4/285 menukil dari perkataan Ibnu Syihab, di mana ia berkata, ‘Amat mengherankan keadaan orang-orang muslim, mereka meninggalkan I’tikaf sedang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam belum pernah meninggalkannya semenjak beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam masuk Madinah hingga wafatnya.’

🏵 HUKUM I’TIKAF

Ulama sepakat bahwa I’tikaf adalah sunnah, ia tidak menjadi wajib kecuali karena nadzar (yaitu orang yang mewajibkan I’tikaf terhadap dirinya sendiri) dan I’tikaf menjadi lebih dikukuhkan kesunnahannya pada hari-hari 10 terakhir bulan Ramadhan. [Lihat Al-Majmu’ oleh Imam An-Nawawi 6/501 dan Ensiklopedi Ijma’ oleh Sa’di Abu Habib 249].

🏵 MASA I’TIKAF

Masa I’tikaf yang disunnahkan di bulan Ramadhan adalah 10 terkahir darinya (lihat hadits ‘Aisyah Rhadiyallahu ‘Anha sebelumnya). 

Adapun selain itu, maka I’tikaf boleh dilakukan walau hanya untuk sesaat, demikian pendapat mayoritas ulama dan itu adalah pendapat yang unggul.

Namun, barangsiapa yang bernadzar berI’tikaf untuk suatu masa tertentu, maka masa I’tikafnya sesuai dengan apa yang dinadzarkan. 

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, ‘Ya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, saya pernah bernadzar di zaman jahiliyyah akan ber-I’tikaf satu malam di Masjdil Haram?’ Sabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, ‘Penuhi nadzarmu itu!’  [HR. Bukhari 2042 dan Muslim 1656].

🏵 SYARAT I’TIKAF

☑ Muslim (laki-laki atau perempuan)

☑ Mumayyiz (akil baligh)

☑ Suci dari janabat, haidh, dan nifas.

Namun, syarat yang terakhir ini masih diperselisihkan oleh ulama mengikuti perbedaan mereka dalam hal boleh tidaknya orang junub, haidh, dan nifas masuk masjid. 

Dan pendapat yang unggul menurut kami, bahwa orang yang junub, haidh, dan nifas dibolehkan duduk di masjid. Karena tidak ada satu hadits shahih pun yang melarang hal itu. Dan itu artinya suci dari junub, haidh serta nifas bukan syarat I’tikaf.

🏵 I’TIKAF MESTIKAH DENGAN BERPUASA

Pendapat yang unggul, bahwa puasa bukanlah syarat syah nya I’tikaf, lantaran Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah beri’tikaf di 10 pertama bulan Syawal [HR. Muslim 1172], 

dan di hari pertama itu jelas tidak berpuasa lantaran hari ‘Idul Fithri di mana orang-orang diharamkan berpuasa. 

Selain itu Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah memberitahukan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang nadzarnya di masa jahiliyyah untuk beri’tikaf di malam hari. Lalu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, 'Penuhilah nadzarmu itu!’ [HR. Bukhari 2042 dan Muslim 1656]. Sedang malam bukanlah waktu untuk berpuasa.

🏵 RUKUN I’TIKAF

[1] Niat
[2] Tinggal di masjid
[3] Mu’takif (pelaku I’tikaf)
[4] Mu’takaf fihi (tempat I’tikaf) yaitu masjid

 
🏵 MASJID ADALAH TEMPAT I’TIKAF

Satu-satunya tempat yang shah digunakan untuk beri’tikaf adalah masjid.

Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan janganlah kamu campuri mereka (sedang), sedang kamu beri’tikaf di masjid.’ [QS. Al-Baqarah : 187].

Imam An-Nawawie Rahimahullah di dalam al-Majmu’ 6/483 berkata, ‘I’tikaf itu shah dilakukan di setiap masjid dan tidak boleh dikhususkan masjid manapun juga kecuali dengan dalil. Sedang dalam hal ini tidak ada dalil yang jelas yang mengkhususkannya.’

Hal senada juga disampaikan oleh Ibnu Hazm di dalam kitabnya Al-Muhalla 5/193.

Catatan : Adapun pendapat sebagian ahli ilmu bahwa I’tikaf tidak disyari’atkan kecuali hanya di 3 tempat; yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha adalah pendapat ganjil lagi marjuh (tidak unggul). Lantaran hadits yang mereka jadikan pijakan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Khuzaifah bahwa, ‘Tidak ada I’tikaf melainkan hanya di 3 masjid.’ [HR. Al-Baihaqi 4/316 dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir 9/349], adalah lemah.

🏵 WAKTU MEMULAI I’TIKAF

Yang terdapat di dalam sunnah, bahwa 
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam mulai masuk ke dalam tempat yang ia siapkan untuk I’tikafnya adalah setelah shalat Shubuh pada hari yang ke-21 Ramadhan.

‘Aisyah Rhadiyallahu ‘Anha berkata, ‘Adalah Rasulullah apabila hendak beri’tikaf, beliau shalat Shubuh kemudian masuk ke tempat I’tikafnya.’ [HR. Muslim 1172 dan Abu Dawud 2464].

Masuknya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam ke tempat I’tikafnya setelah shalat Shubuh tidak bermakna bahwa beliau baru masuk masjid dan beri’tikaf setelah fajar tiba. Tidak, tetapi beliau masuk ke masjid untuk I’tikaf adalah sebelum terbenamnya matahari pada tanggal 20 Ramadhan dan baru masuk ke tempat khusus di dalam masjid untuk I’tikaf seusai melaksanakan shalat Shubuh. 

Sebab, jika tidak dimaknai demikian (yaitu tetap dimaknai bahwa beliau beri’tikaf di awal siang/usai shalat Shubuh), maka I’tikaf Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak dapat dikatakan sebagai Al-‘Asyrul Awahir (10 yang terakhir) karena beliau telah kehilangan seluruh malamnya (yaitu malam ke-21). Sedang kata ‘sepuluh terakhir’ maksudnya adalah nama bagian malam, dan bermula pada malam kedua puluh satu.

Dengan demikian, barangsiapa yang hendak beri’tikaf, maka hendaknya ia masuk masjid sebelum matahari terbenam pada tanggal 20 Ramadhan malam ke-21. Demikian pendapat Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad di dalam satu pendapatnya. Walla-hu A’lam.

🏵 WAKTU MENGAKHIRI I’TIKAF

Diperbolehkan meninggalkan tempat I’tikaf (masjid) setelah terbenamnya matahari pada malam ‘Idul Fithri. 

Namun, yang lebih utama adalah keluar setelah melaksanakan shalat Shubuh di hari ‘Idul Fithri.

✍️Ustadz Abu Halbas Muhammad Ayyub lc

Demikian.

═ ❁✿❁ ═

〰〰〰〰〰〰〰
📱JOIN US
Whatsapp : ISLAMIC CENTER WULUHAN :
https://chat.whatsapp.com/LJTcXonhx7ZI6XPazC8I7Y
〰〰〰〰〰〰〰

📡 Disebarkan dan diedit oleh
Yayasan Al-Burhan Jember (Islamic Center Wuluhan)
Jl. Patimura, Purwojati, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember

#kajian #sunnah #ramadhan #muhammadayyub #alburhanjember #islamiccenter #wuluhan #jember

Komentar

Lebih baru Lebih lama