Fiqih Shalat Gerhana - Ustadz Muhammad Ayyub, Lc.

♻ FIQH SHALAT GERHANA ♻
✍ Ustadz Muhammad Ayyub, Lc

📚 SOAL 📚

Assalamu'alaikum.. Ustadz bgmn tata cara shalat gerhana matahari dan hukumnya? [081357028xxx dan 081230899xxx]

📚 JAWAB 📚

Berikut fiqh shalat kusuf (gerhana) yang kami angkat dari kitab Tamamul Minnah Fi Fiqhil Kitab Wa Shahihis Sunnah oleh Syaikh 'Adil Al 'Azzazy.

🌘 Shalat Kusuf [Gerhana]

Makna 'kusûf‘ adalah berubah menjadi hitam, sedang makna 'khusuf‘ adalah kekurangan. Para ahli fiqih menggunakan istilah kusuf untuk matahari dan khusuf untuk bulan, sekalipun pada kenyataannya penisbatan kusuf berlaku untuk matahari dan bulan, dan penisbatan khusuf juga berlaku untuk keduanya.

🌘 Hukum shalat gerhana:

Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat gerhana adalah sunnah muakkad. Mereka berdalil atas ketetapan ini dengan hadits-hadits Al-Qâdhiyah bahwa shalat-shalat yang fardhu adalah shalat lima waktu.

Sementara Abu Awanah Rahimahullah didalam kitab shahihnya menegaskan akan kewajibannya dan ia menukil hal itu dari Abu Hanifah Rahimahullah. Hal itu didasarkan pada hadits dari Al-Mughirah bin 

Syu'bah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, 'Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hari meninggalnya Ibrahim. Orang-orang berkata, 'Matahari gerhana karena meninggalnya Ibrahim.‟ Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena meninggal atau hidupnya seseorang. Apabila kalian melihat keduanya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga ia tersingkap kembali.‘ Dan dalam lafadh Al-Bukhari, 'Hingga tampak (kembali).' [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Ash-Shan‟ani Rahimahullah berkata, "Perintah tersebut adalah dalil wajibnya shalat gerhana, hanya saja mayoritas ulama membawanya pada hukum sunnah muakkad [di tekankan].‘ [Subulus Salam 2/504]

Asy-Syaukani Rahimahullah di dalam kitabnya, 'As-Sailul Jarrar‘ berkata, "Dhahir hadits menunjukkan wajibnya shalat gerhaha. Jika benar apa yang dikatakan bahwa terjadi konsensus [kesepakatan] ulama atas tidak wajibnya shalat gerhana maka konsensus ini adalah pemaling dari perintah wajib tersebut jika ternyata tidak ada konsensus maka tetaplah wajib.‟

Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata, "Yang benar, bahwa shalat gerhana itu adalah fardhu wajib. Jika bukan fardhu 'ain maka ia adalah fardhu kifayah.‟[Syarhul Mumti' 4/8]

Aku berkata : Tidak ada pertentangan antara hadits-hadits gerhana ini dengan hadits yang menyebutkan bahwa shalat fardhu itu hanya ada lima. Karena shalat yang lima waktu ini diwajibkan secara rutin sehari semalam, sedang shalat gerhana perkaranya bersifat sementara [tidak tetap] yaitu ketika terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan. Wallahu A‘lam.

🌘 Waktunya

Tidak ada waktu tertentu untuk shalat gerhana, namun waktunya dimulai semenjak terjadinya gerhana matahari atau gerhana bulan pada waktu kapan saja, sebagaimana yang ditunjukkan pada dhahir sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits gerhana diatas, "Apabila kalian melihat keduanya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga menjadi tampak kembali.‘ Dan ini menunjukkan bahwa shalat gerhana berakhir dengan berakhirnya gerhana.

🏮 Beberapa catatan 🏮

☑ Al-Hafidh Rahimahullah berkata, "Saya belum mendapatkan satu jalur pun diantara jalur-jalur periwayatan yang ada tentang shalat gerhana –meski sangat banyak- bahwa beliau pernah  mengerjakan shalat gerhana kecuali pada waktu dhuha. Tetapi yang demikian itu terjadi secara kebetulan dan tidak berarti dilarang untuk mengerjakannya pada waktu yang lain.‟[2/628]

Aku berkata: Tidak boleh ada satu pun yang menduga bahwa shalat gerhana tidak dilakukan kecuali jika gerhana terjadi pada waktu dhuha lantaran berdalil dengan perbuatan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam; Karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak melarang seseorang untuk mengerjakan shalat gerhana di luar waktu ini, namun beliau hanya mematoknya dengan sabda beliau, 'Apabila kalian melihat keduanya‘ yaitu melihat gerhana matahari atau gerhana bulan.

☑ Apabila matahari telah tampak sedang seseorang masih berada di dalam shalatnya, maka apakah ia menyempurnakan shalatnya atau ia mencukupkan pada apa yang telah dikerjakannya? Yang benar, bahwa ia terus menyempurnakan shalatnya sekalipun matahari telah tampak cerah di tengah-tengah shalat. Hal ini didasarkan pada hadits Aisyah Radhiyallahu Anha yang tercantum didalam Ash-Shahihain, 'Kemudian beliau berpaling sedang matahari telah tampak' [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dan dalam satu riwayat darinya dengan lafadh, "Matahari telah tampak [kembali] sebelum beliau berpaling.‘ [HR. Al-Bukhari dan Muslim] 

🌘 Seruan shalat gerhana:

Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, "Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, diserukan, 'Innash Shalâta Jâmi‘ah' [HR. Al-Bukhari dan Muslim] Dan dalam satu riwayat  bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam secara tegas memerintahkan hal itu. Di dalam Ash-Shahihain dari hadits Aisyah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengutus seorang penyeru lalu ia pun menyeru dengan seruan itu. [yaitu Ash-Shalâtul Jâmi‘ah]. [HR. Al-Bukhari dan Muslim] 

Ibnu Daqiqul 'Ied Rahimahullah berkata, 'Hadits ini adalah hujjah bagi mereka yang menyunnahkan hal itu, dan mereka telah sepakat bahwa tidak ada adzan dan iqamah untuk shalat gerhana.

🌘 Tatacara shalat gerhana

Ada banyak riwayat tentang tatacara pelaksanaan shalat gerhana, namun pendapat yang paling unggul dan yang paling kuat adalah hadits Ibnu Abbas dan Aisyah Radhiyallahu Anhuma yang terdapat didalam Ash-Shahihain.

Dari Aisyah Radhiyallahu Anhuma, ia berkata: "Terjadi gerhana matahari pada masa hidup Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar ke masjid lalu berdiri [untuk shalat] kemudian bertakbir. Lalu , orang-orang berbaris dibelakang beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca bacaan yang panjang, kemudian bertakbir lalu rukuk dengan rukuk yang panjang. Setelah itu mengangkat kepalanya seraya mengucapkan, 'Sami‘allahu Liman Hamidah, Rabbanâ Walakal Hamd.‘ Lantas berdiri lagi, lalu membaca bacaan yang lebih pendek dari bacaan yang pertama. Kemudian bertakbir dan rukuk yang panjang, tetapi lebih pendek dari rakaat yang pertama, lalu mengucapkan, 'Sami‘allahu Liman Hamidah, Rabbanâ Walakal Hamd‘ lalu sujud. Kemudian pada rakaat terakhir beliau melakukan seperti apa yang beliau lakukan dalam rakaat sebelumnya. Dengan begitu, beliau telah menyempurnakan empat kali ruku' [dalam dua rakaat] dan empat sujud [dalam dua rakaat]. Kemudian matahari telah tampak sebelum beliau berpaling. Kemudian beliau berdiri, lalu berkhutbah di hadapan orang-orang dan memuji Allah dengan pujian yang layak untuk-Nya, kemudian bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak menjadi gerhana karena meninggalnya seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Apabila kalian melihat keduanya, maka lakukanlah shalat.‘ 

Dalam satu riwayat, 'Dan shalatlah hingga Allah menyingkap matahari/bulan dari kalian.‘ [HR. Al -Bukhari dan Muslim].

Setelah pembahasan yang cukup panjang, akhirnya cara inilah yang diunggulkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zâdul Ma‘ad. Kemudian beliau berkata, 'Juga pendapat yang tertulis dari Ahmad bahwa beliau mengambil pendapat ini dengan berdasarkan pada hadits Aisyah dan batasannya bahwa pada setiap rakaat dua rukuk dan dua sujud...dan ini merupakan pilihan Abu Bakar dan shahabat-shahabat yang terdahulu. Dan juga merupakan pilihan syaikh kami Abul Abbas Ibnu Taimiyah, dimana beliau melemahkan semua hadits-hadits yang menyelisihinya dan berkata, 'hadits itu keliru.‟'

Atas dasar ini, maka bentuk shalat gerhana adalah sebagai berikut:

1. Takbir dengan disertai niat didalam hati, lalu membaca Al-Fatihah dan surah yang panjang kira-kira sepanjang surat Al-Baqarah. 

Telah disebutkan dalam satu riwayat Ibnu Abbas, "Lalu beliau berdiri dengan waktu yang panjang sepanjang bacaan surat Al-Baqarah.‘ [HR. Al Bukhari dan Muslim]

2. Rukuk dengan rukuk yang panjang seperti berdirinya.

3. Bangkit dari rukuk seraya mengucapkan, 'Sami‘allahu Liman Hamidah, Rabbanâ Walakal Hamd.‘ 

Kemudian membaca Al-Fatihah dan membaca surah setelahnya dengan surah yang panjang namun lebih pendek dari bacaan yang pertama.

4. Lalu rukuk untuk yang kedua dengan rukuk yang panjang namun lebih pendek dari rukuk yang pertama.

5. Bangkit dari rukuk seraya mengucapkan, 'Sami‘allahu Liman Hamidah, Rabbanâ Walakal Hamd.‘

6. Sujud dengan dua sujud yang panjang.

7. Kemudian bangkit kerakaat yang kedua lalu mengerjakannya seperti rakaat yang pertama.

8. Lalu duduk dan membaca tasyahhud kemudian mengucapkan salam.

🌘 Apakah bacaan dalam shalat gerhana jahar atau siir?

Yang benar, bacaan dalam shalat gerhana dibaca dengan jahar [keras], baik shalat gerhana matahari atau gerhana bulan. 

Hal ini berdasarkan pada hadits Aisyah Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, 'Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengeraskan bacaannya dalam shalat gerhana.[HR. Al-Bukhari dan Muslim] 

Adapun hadits-hadits yang  menyebutkan bahwa suara beliau tidak terdengar [sewaktu membaca] maka ia adalah hadits-hadits lemah.

Al-Hafidh Rahimahullah berkata, 'Mengeraskan bacaan saat shalat gerhana telah disebutkan dalam riwayat Ali baik melalui jalur yang langsung dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam [marfû‘] maupun yang tidak dinisbatkan langsung kepada beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam [mauquf], sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan ahli hadits lainnya. 

Pendapat ini diikuti oleh kedua murid Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnul Mundzir serta selain keduanya dari kalangan ahli hadits madzhab Asy-Syafi‟i , dan Ibnul 'Arabi dari madzhab Maliki. [Fathul Bari 2/55]

🏮 Beberapa catatan 🏮

1. Dianjurkan mengerjakan shalat gerhana dengan berjamaah. Berdasarkan dengan hadits yang terdahulu bahwa beliau pernah mengutus seorang penyeru untuk berseru, 'Ash-Shâlâtu Jami‘ah.‘ 

Shiddiq Hasan Khan Rahimahullah berkata, "Mendirikan shalat sunnah gerhana ini dengan berjamaah adalah lebih utama namun berjamaah bukanlah syarat dalam shalat gerhana.‟[Raudhatun Nadia 1/158].

2. Dianjurkan mengerjakan shalat gerhana di masjid, berbeda halnya dengan shalat Idhul Adhha dan Idul Fitri [yang dilakukan ditanah lapang]. Karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakannya di masjid ketika terjadi gerhana sebagaimana yang telah disebutkan pada hadits Aisyah yang terdahulu.

3. Tidak mengapa jika para wanita keluar [dari rumahnya] untuk menghadiri shalat gerhana sebagaimana yang terdapat pada hadits Asma` binti Abu Bakar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, 'Saya pernah mendatangi Aisyah Radhiyallahu Anha istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam –pada saat gerhana matahari- ternyata orang-orang tengah mengerjakan shalat dan begitu juga dengan Aisyah tengah berdiri mengerjakan shalat... Al-Hadits.‟ [Muttafaqun Alaihi.]

4. Ketika terjadi gerhana matahari dan bulan dianjurkan untuk berdzikrullah, berdoa, bershadaqah, memerdekakan budak, beristighfar, bersegera mengerjakan shalat dan berta‟awwudz dari azab kubur. Amalan-amalan utama ini telah beliau singgung dalam khutbahnya Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana dan semuanya terdapat di dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim. Diantaranya:

☑ Dalam hadits Aisyah Radhiyallahu Anhuma, 'Maka apabila kalian melihat gerhana maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekah, dan shalatlah.‘ [HR. Al Bukhari dan Muslim]

☑ Dalam hadits Al-Mughirah bin Syu‟bah Radhiyallahu Anhu, 'Apabila kalian melihat keduanya  yaitu gerhana bulan dan matahari- maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga ia tersingkap kembali.

☑ Dari Asma` Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, 'Sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memerintahkan untuk memerdekakan budak saat terjadi gerhana matahari.‟[HR. Al Bukhari dan Muslim]

☑ Dari Abu Musa Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tanda-tanda yang dikirim oleh Allah ini bukan karena meninggalnya seseorang. Tetapi, Allah menakut-nakuti hamba-Nya denganya. Apabila kamu melihat sedikit saja darinya, maka bersegeralah untuk berdzikir kepada Allah, berdoa, dan memohon ampunan kepada-Nya.‘ [HR. Al Bukhari dan Muslim]

☑ Berlindung dari azab kubur. Hal ini berdasarkan 0pada hadits Aisyah Radhiyallahu Anhuma, 'Setelah berpaling dari shalatnya, beliau mengucapkan apa yang Allah kehendaki untuk beliau ucapkan. Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk berlindung dari siksa kubur.‟[HR. Al-Bukhari]

☑ Diperbolehkan mengangkat kedua tangan saat berdoa pada shalat gerhana. Berdasarkan pada hadits Abdurrahman bin Samurah, ia berkata, 'Pada suatu waktu di masa hidup Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ketika saya sedang bermain panah, tiba-tiba terjadi gerhana matahari. Lalu saya lemparkan semua alat permainanku dan aku berkata, 'Saya hendak melihat apakah yang  akan di lakukan Rasulullah bila terjadi gerhana matahari seperti itu.‟ Setelah saya sampai ke tempat beliau, saya mendapatinya sedang berdoa dengan mengangkat kedua tangannya, bertakbir, bertahmid dan bertahlil hingga matahari tampak kembali, lalu beliau membaca dua surat dan rukuk dengan dua rukuk.‟ Dan dalam satu riwayat, 'Lalu saya mendatanginya dan beliau sedang berdiri di dalam shalat dalam keadaan mengangkat kedua tangannya.‘ [HR. Muslim]

🌘 Khutbah shalat gerhana:

Al-Hafidh Rahimahullah berkata, 'Ulama berbeda pendapat tentang khutbah gerhana. Asy-Syafi‟i, Ishaq, dan mayoritas ahli hadits menganggapnya sebagai hal disunnahkan.‟

Aku berkata: Khutbah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam shalat gerhana benar-benar valid adanya. Maka [imam] disyariatkan menyampaikan khutbah seusai shalat gerhana sebagai bentuk ikutan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dimana dalam khutbah tersebut imam menganjurkan [para  makmum] untuk bersedekah, berisitighfar, berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, memberi peringatan dengan ayat-ayat Allah dan menakut-nakuti dengan azab kubur. 

Dan diantara khutbah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang masih terpelihara pada saat shalat gerhana adalah seperti apa yang disebutkan oleh ibnul Qayyim ketika mengumpulkan semua riwayat-riwayat yang ada, dimana beliau berkata, 'Dan yang dipelihara dari khutbah beliau adalah:

☑ Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdoa kepada Allah, bertakbir, shalat, dan bersedekah. Wahai ummat Muhammad, demi Allah, tidak ada seseorang yang lebih cemburu dari Allah jika hambanya, laki-laki atau perempuan berzina. Wahai ummat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dan bersabda, 'Sungguh aku telah melihat di tempat berdiriku ini segala sesuatu yang telah dijanjikan kepada kalian. Sehingga kamu melihatku hendak meraih satu tandan (buah) dari surga saat melihat aku maju, dan sungguh aku melihat neraka yang saling membakar antara sebagiannya dengan sebagian yang lain saat melihat aku mundur.‟ Dan dalam satu lafadh, 'Dan aku melihat neraka, maka aku belum pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan seperti hari ini, dan aku melihat sebagian besar penghuninya adalah wanita.‟ Para shahabat bertanya, 'Karena apa, wahai Rasulullah?‟ Beliau menjawab, 'Karena kekufuran mereka.‟ Ada yang bertanya, 'Apakah mereka kufur kepada Allah?‟Beliau menjawab, 'Mereka kufur kepada keluarganya (suaminya), dan kufur terhadap kebaikan (tidak berterima kasih). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang waktu, lalu dia melihat sesuatu (kesalahan) darimu, niscaya ia akan mengatakan, 'Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.‘ [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

☑ Diantaranya: 'Sungguh telah diwahyukan kepadaku bahwasanya kalian akan difitnah (diuji) dalam kubur-kubur sama- atau mirip- dengan firnah Dajjal. Salah seorang diantara kalian akan didatangkan dan dikatakan kepadanya, 'Apakah pengetahuanmu tentang laki-laki ini [Muhammad]?‟ 

Adapun orang beriman-atau orang yang yakin- niscaya akan berkata, 'Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah datang kepada kami dengan membawa penjelasan- penjelasan dan petunjuk, kami menyambutnya dan beriman serta mengikutinya.‟ Maka dikatakan kepadanya,  'Tidurlah dengan tenang, sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau orang beriman.‟ Adapun orang munafik- atau ia berkata; orang yang ragu- maka akan berkata, 'Saya tidak tahu, saya mendengar manusia mengatakan sesuatu maka aku pun mengatakannya.‟ [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

☑ Diantaranya: _'Wahai sekalian manusia, sesungguhnya matahari dan bulan tidak lain hanyalah merupakan dua tanda dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Dan keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang. Apabila kalian melihat sedikitpun dari gerhana maka shalatlah hingga matahari/bulan tampak (kembali). Segala yang dijanjikan Allah diperlihatkan-Nya kepadaku dalam shalatku ini. Diperlihatkannya kepadaku neraka; yaitu ketika kalian melihat aku mundur karena aku takut akan terkena jilatannya, sehingga tampak olehku di dalamnya si pemilik tongkat yang sedang menarik-narik lambungnya di dalam neraka, karena dia pernah mencuri [barang] orang haji dengan tongkatnya. Jika ditanya oleh orang kenapa kamu mencuri? Jawabnya, 'Saya tidak sengaja, karena hanya menyangkut pada tongkatku.‟ Tetapi jika orang lengah, ia kait (curi) lagi. Kulihat juga di neraka itu seorang wanita pemilik kucing. Ia mengikat kucing itu, tetapi tidak diberinya makan dan ia tidak pula melepaskannya, supaya kucing itu dapat mencari makannya sendiri berupa rumput-rumput bumi, sehingga akhirnya kucing itu mati kelaparan. Kemudian diperlihatkan pula padaku surga; yaitu ketika kalian melihatku maju, sehingga aku berdiri ditempatku ini. Aku ulurkan tanganku untuk memetik buah buahannya, supaya kalian semua dapat melihatnya. Kemudian tampak olehku untuk tidak melakukannya. Tidak ada sesuatu yang telah dijanjikan Allah, melainkan  kulihat nyata di dalam shalatku.‟ [HR. Muslim]

Demikian.

--- o0o ---

〰〰〰〰〰〰〰
📱JOIN US
Whatsapp : ISLAMIC CENTER WULUHAN :
https://chat.whatsapp.com/LJTcXonhx7ZI6XPazC8I7Y
〰〰〰〰〰〰〰

📡 Disebarkan dan diedit oleh
Yayasan Al-Burhan Jember (Islamic Center Wuluhan)
Jl. Patimura, Purwojati, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember

#alburhanjember #islamiccenter #wuluhan #jember #kajian #sunnah #muhammadayyub

Komentar

Lebih baru Lebih lama