Patokan Bermula dan Berakhirnya Ramadhan - Serial 40 Hadis Ramadhan

❄🌻®🅰Ⓜ🅰🌙🅰🧲 🌻❄ 

(40 HADIS RAMADHAN)
03- PATOKAN BERMULA DAN BERAKHIRNYA RAMADHAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Abu-l-Qâsim shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ

“Berpuasalah kalian lantaran melihatnya (hilal) dan berbukalah lantaran melihatnya (hilal). Dan jika awan menutupi kalian maka sempurnakanlah bilangan Sya’bân [menjadi] tiga puluh hari.” (HR. Al-Bukhari)

✍ Faidah Hadis :
1.Masuk dan keluarnya bulan Ramadhan dapat diketahui dari dua tanda dan tidak ada tanda yang ketiganya. Yaitu,  tanda pokok (ashliyah) dan tanda pengganti (badaliyah). Adapun tanda pokok adalah menyaksikan hilal. Apabila hilal Ramadhân benar-benar telah terlihat maka berpuasa karenanya adalah wajib dan apabila hilal Syawal terlihat maka berbuka karenanya adalah wajib.

2. Apabila telah masuk malam ketiga puluh Sya’ban atau malam ketiga puluh Ramadhân dan orang-orang tidak berhasil menyaksikan hilal yang posisinya sebagai tanda ashliyah maka beralih pada tanda lainnya yaitu tanda pengganti (Badaliyah). Yaitu dengan menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan menggenapkan Ramadhân menjadi tiga puluh hari sebagai tanda keluarnya Ramadhân.

3. Adapun berpatokan pada hisab maka  pendapat yang unggul  bahwa hisab tidak boleh dijadikan sebagai tanda ashliyah (pokok)  maupun  badaliyah (pengganti) dalam menetapkan masuk dan keluarnya bulan Ramadhân. Alasannya karena hadis-hadis yang terkait dengannya memerintahkan berpuasa karena melihat hilal dan melarang berpuasa hingga melihat hilal. Juga itulah yang diamalkan oleh Nabi shallahu alaihi wasallam selama sembilan ramadhan dan kurang lebih tiga puluh ramadhan dimasa empat Khalifah setelahnya. Berpatokan pada hisab berarti menyelisihi jalan yang mereka tempuh.

4. Apabila hilal terlihat disuatu negeri yang tidak terlihat dinegeri yang lain, maka pendapat yang unggul bahwa apabila suatu negeri mathla`nya (tempat terbitnya hilal) berbeda dengan negeri lainnya maka masing-masing negeri memiliki rukyatul hilâl. Dan apabila se-mathla’ (sama tempat terbitnya semisal Indonesia se-mathla' dengan Brunei Darussalam, Malaysia dan Singapura), maka bagi siapa saja yang belum melihat hilal wajib mengikuti ketetapan rukyat hilal tempat yang lain. Diantara dasar untuk pendapat ini adalah hadis Kuraib yang terdapat dalam kitab shahih Muslim.

5. Jumlah hari dalam bulan-bulan hijriah 29 hari dan 30 hari. Tidak kurang dari 29 hari dan tidak lebih dari 30 hari. Sedang Maghrib adalah batas awal hari dalam Islam. Posisi hilal saat maghrib menjadi rujukan dalam penentuan masuknya awal bulan Islam, termasuk Ramadhan dan Syawal. Khusus untuk bulan  Ramadhan dan bulan DzulHijjah, meskipun bilangan harinya hanya 29 hari maka keutamaan kedua bulan tersebut tidak akan berkurang. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda , "Dua bulan yang tak berkurang, yaitu dua bulan hari raya, Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

♾🧭♾

Diedit dan Disebarkan Oleh
Yayasan Al-Burhan Jember
(Islamic Center Wuluhan)
Jl. Patimura, Purwojati, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember
Website : https://alburhanjember.com​
Facebook : https://facebook.com/alburhanjember.fp​
Instagram : https://instagram.com/alburhanjember​
Twitter : https://twitter.com/alburhanjember
Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCu4MBY27Xy_cMFOaLksBPog
Telegram : https://t.me/alburhanjember

#kajian #sunnah #ramadhan #muhammadayyub #islamiccenter #wuluhan #alburhanjember #jember

Komentar

Lebih baru Lebih lama