Kesaksian Orang Yang Melihat Hilal - Serial 40 Hadis Ramadhan

❄🌻 ®🅰Ⓜ🅰🌙🅰🧲 🌻❄

(40 HADIS RAMADHAN)
05- KESAKSIAN ORANG YANG MELIHAT HILAL

Dari Ibnu Umar radhiyallâhu anhu ia berkata :

تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ.

“Orang-orang pada mengamati hilal (bulan sabit diawal bulan), lalu aku beritahukan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau berpuasa dan menyuruh orang-orang agar berpuasa.” (HR. Abu Dawud. Dinilai shahih Al-Hakim dan Ibnu Hibban)

✍ Faidah Hadis :
1. Mengamati penampakan hilal Ramadhan dan hilal Syawal merupakan sunnah yang berlaku dikalangan para Shahabat Nabi shallallaahu alaihi wasallam. Tidak hanya dibebankan kepada para pemangku jabatan namun mengamati hilal juga dibebankan kepada seluruh kaum muslimin. Hanya saja hukum tersebut bersifat fardhu kifayah. Dimana jika sebagian telah mengamatinya maka gugurlah kewajiban mengamati bagi sebagian yang lain.

2. Sekalipun mengamati hilal adalah hak dari setiap muslim, namun pihak yang berhak dalam menentukan dan mengumumkan kepada khalayak ramai tentang bermula dan berakhirnya  Ramadhan adalah penguasa (pemerintah). Bukan individu atau organisasi kemasyarakatan. Dengan seperti ini kebersamaan dalam puasa dan berlebaran akan terwujud.

3. Pendapat yang unggul bahwa persaksian satu orang atas terlihatnya hilal Ramadhan dapat diterima untuk memulai puasa Ramadhan. Tentunya persaksian yang datang dari seorang muslim yang adil, baligh lagi berakal. Adapun persaksian hilal Syawal (keluarnya Ramadhân) maka mesti dengan dua orang saksi.

4. Saat memberikan kesaksian dihadapan hakim, saksi tidak harus mengucapkan dua kalimat syahadat tetapi cukup dengan lafazh pemberitahuan bahwa ia melihat hilal. Adapun hadis yang mengharuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat maka hadis tersebut tidaklah shahih.

5. Bila hakim menolak persaksian seseorang yang melihat hilal, maka pendapat yang unggul  bahwa orang tersebut  tidak diperkenankan mengamalkan rukyahnya dan juga tidak mengumumkannya ke publik.  Ia mesti berpuasa bersama orang-orang dan berhari raya bersama mereka. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

صَوْمَكُمْ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَفِطْرِكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَأضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ.

‘Puasa kalian adalah ketika orang-orang berpuasa, hari raya Iedul Fithri kalian adalah ketika orang-orang berhari raya Iedul Fithri, penyembelihan hewan kurban kalian adalah ketiak orang-orang menyembelih hewan kurban mereka.” (HR. At-Tirmidzi (802), Abu Dâwud [2324] dan lainnya. Dishahihkan oleh Al-Albâni lihat Al-Irwâ`)

♾🧭♾

Diedit dan Disebarkan Oleh
Yayasan Al-Burhan Jember
(Islamic Center Wuluhan)
Jl. Patimura, Purwojati, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember
Website : https://alburhanjember.com​
Facebook : https://facebook.com/alburhanjember.fp​
Instagram : https://instagram.com/alburhanjember​
Twitter : https://twitter.com/alburhanjember
Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCu4MBY27Xy_cMFOaLksBPog
Telegram : https://t.me/alburhanjember

#kajian #sunnah #ramadhan #muhammadayyub #islamiccenter #wuluhan #alburhanjember #jember

Komentar

Lebih baru Lebih lama