Berpuasa Ramadhan Dihari Yang Meragukan (Syak) - Serial 40 Hadis Ramadhan

❄๐ŸŒป ®๐Ÿ…ฐⓂ๐Ÿ…ฐ๐ŸŒ™๐Ÿ…ฐ๐Ÿงฒ๐ŸŒป ❄ 

(40 HADIS RAMADHAN)
04- BERPUASA RAMADHAN DIHARI YANG MERAGUKAN (SYAK)

Dari Abul Yaqdzan  Ammar bin Yasir radhiyallahu anhu ia berkata:

ู…َู†ْ ุตَุงู…َ ุงู„ูŠَูˆْู…َ ุงู„َّุฐِูŠْ ูŠُุดَูƒُّ ูِูŠْู‡ِ، ูَู‚َุฏْ ุนَุตَู‰ ุฃَุจَุง ุงู„ู‚َุงุณِู…ِ .

“Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak (hari yang diragukan apakah sudah masuk Ramadhรขn atau belum), maka ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam).” (HR. Al-Bukhari secara mu'allaq dan diriwayatkan secara maushul oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)

✍ Faidah Hadis :
1. Hari syak atau hari yang meragukan adalah hari yang ke-30 dari bulan Sya'ban dimana pada malam ke-30 tersebut hilal tidak terlihat lantaran terhalangi oleh awan mendung, debu, atau yang semisalnya.  Jika langit terlihat cerah namun hilal tidak terlihat maka keesokan harinya tidak disebut dengan hari syak (meragukan) tetapi sebagai hari yang meyakinkan lantaran ia adalah bagian dari bulan Sya'ban.

2. Haram hukumnya berpuasa dihari syak. Karena berpuasa pada hari itu adalah bentuk kedurhakaan terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Mayoritas ulama berpendapat, apabila ada orang yang berpuasa pada hari syak dan ternyata hari itu benar-benar telah masuk bulan Ramadhan, maka ia mesti menggantinya (qadha') pada hari yang lain.

3. Hikmah dari larangan berpuasa pada hari syak, lantaran hukum puasa itu baik bermula  maupun berakhirnya amat tergantung dengan wujud hilal; terlihat secara meyakinkan atau tidak terlihat secara meyakinkan. Jika hanya sekedar dugaaan, bahwa dibalik awan mendung ada hilal lalu mengambil sikap berhati-hati dengan berpuasa keesokan harinya, maka sikap seperti ini adalah bagian dari kelancangan dalam beragama bahkan membuat aturan syariat yang tidak ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

4. Hadis diatas memberikan faedah yang sangat besar dalam persoalan fiqh yang lainnya bahwa seseorang  jika berada dalam suatu keadaan yang meyakinkan maka ia tidak keluar darinya kecuali dengan hal yang meyakinkan pula. Jika seseorang secara meyakinkan berada di bulan Sya'ban maka ia tidak keluar darinya kecuali dengan hal yang meyakinkan (terlihat hilal atau digenapkan bilangan harinya menjadi 30). Begitu juga saat seseorang berada di bulan Ramadhan, maka ia tidak keluar darinya kecuali dengan hal yang meyakinkan (terlihat hilal Syawal atau digenapkan harinya menjadi 30). 

5. Abul Qasim adalah kun-yah Nabi shallahu alaihi wasallam. Al-Qasim lahir di Makkah sebelum Rasulullah  diutus menjadi seorang Rasul. Ia merupakan putra pertama Nabi hasil dari pernikahan beliau dengan Khadijah radhiyallahu anha. Oleh karenanya, Nabi dijuluki Abul Qasim (ayahnya Qasim). Namun kebersamaan Nabi  dengan Al-Qasim tidak berlangsung lama. Ketika usia Al-Qasim dua tahun, Allah mewafatkannya. Al-Qasim sendiri bermakna yang membagi. Sebagian ulama melarang berkun-yah dengan Abul Qasim lantaran shahihnya hadis tentang itu dan sebagian lagi berpendapat bahwa larangan tersebut berlaku sewaktu Nabi shalallahu alaihi wasallam masih hidup dan tidak berlaku setelah Nabi shallahu alaihi wasallam meninggal. Dan pendapat terakhir inilah yang unggul.

♾๐Ÿงญ♾

Diedit dan Disebarkan Oleh
Yayasan Al-Burhan Jember
(Islamic Center Wuluhan)
Jl. Patimura, Purwojati, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember
Website : https://alburhanjember.com​
Facebook : https://facebook.com/alburhanjember.fp​
Instagram : https://instagram.com/alburhanjember​
Twitter : https://twitter.com/alburhanjember
Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCu4MBY27Xy_cMFOaLksBPog
Telegram : https://t.me/alburhanjember

#kajian #sunnah #ramadhan #muhammadayyub #islamiccenter #wuluhan #alburhanjember #jember

Komentar

Lebih baru Lebih lama